Cedera ACL


 Oleh : Wimpi Pardede
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Kesehatan dan Rekreasi FIK UNY


Anterior Crusiate Ligament/Ligamentum Cruciatum Anterius merupakan salah satu komponen penyusun sendi lutut. A ligament is a fibrous connective tissue which attaches bone to bone, and usually serves to hold structures together and keep them stable. Pada sendi lutut (Articulatio genus) terdapat beberapa ligamen yang menyusun, yakni :
  1. Ligamentum Popliteum Obliguum
  2. Ligamentum Popliteum arcuatum
  3. Ligamentum Collaterale Mediale
  4. Ligamentum Collaterale laterale
  5. Ligamentum Cruciatum Anterius
  6. Ligamentum Cruciatum Posterius
  7. Ligamentum Transversus Genus
  8. Ligamentum Menisci Lateralis
(Diktat Anatomy Manusia FIK UNY, 2012).
Selain menghubungkan kedua tulang, ligamen pada sendi lutut juga berperan untuk memberikan kestabilan pada gerakan sendi lutut (Mark & Mykleburst,2012). Fungsi lain dari ligamen cruciatum anterior adalah untuk mencegah pergeseran femur kebelakang atau tibia ke depan (Diktat Anatomy, 2012).

Anatomy
Ligamentum Cruciatum Anterius berada di dalam septum intercondylicum (celah dalam rongga sendi lutut), berjalan dari coraniolateral ke caudomedial yaitu dari facies medialis condylus leteralis femoris ke tuberculum intercondyloideum tibiale dan fossa intecodyloidea anterioc (Tim Anatomi,2012).




Derajat Cedera
  Cedera ligament yang berkenaan dengan "Sprain" dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
  1. Grade 1 Sprain : ligamen sedikit tertarik namun masih mampu menjaga kesetabilan sendi lutut.
  2. Grade 2 Sprain : Ligamen tertarik dengan hebat dan membuat sendi lutut menjadi longgar/tidak setabil
  3. Grade 3 Sprain : ligamen mengalami sobekan total bahkan hingga terputus sehingga sendi lutut kehilangan kesetabilan.
(rthoinfo.aaos.org/26 June 2014/13:29).
  Sedangkan menurut Giam (1993:137) tingkatan dalam cedera olahraga dikelompokkan sebagai berikut :
  1. Cedera ringan merupakan cedera dengan robekan yang hanya dapat dilihat dengan mikroskop, sedikit keluhan, dan tidak mengganggu performance atlet, misalnya : lecet, memar, atau robek ligamen kecil.
  2. Cedera sedang adalah cedera dengan kerusakan jaringan, menimbulkan rasa nyeri, bengkak, merah, atau panas dengan menimbulkan gangguan fungsi dan mempengaruhi performance atlet, misalnya : robek otot, dan robek ligament.
  3. Cedera berat yaitu cedera dengan robekan otot atau ligamen secara lengkap atau hampir lengkap atau faktur tulang yang memerlukan istirahat total, pengobatan intesif, bahkan operasi.

Penyebab Cedera
Penyebab cedera ACL dapat ditimbulkan oleh berbagai aktivitas (tidak hanya aktivitas olahraga). Penyebab cedera berdasarkan betapa sering aktivitas tersebut menyebabkan cedera ACL dapat dikelompokkan sebagai berikut :
  1. Gerakan Berputar yang terlalu cepat dan tidak normal (Non-Contact)
  2. Lutut berpilin saat mendarat
  3. Kontak atau benturan langsung
(Diktat Anatomy, 2012).
Sedangkan Menurut Robert G. Mark MD dalam bukunya yang berjudul "The ACL Solution", di jelaskan urutan penyebab terjadinya cedera ACL sebagai berikut :
  1. Cutting and Pivoting Sport
     Kebanyakan pemicu cedera ACL pada atlet berasal dari situasi non-contac (sekitar 70%). biasanya terjadi saat atlet mendarat setelah melakukan lompatan, merubah arah dengan cepat untuk menghindari pemain lawan, atau saat atlet melakukan gerakan berhenti secara mendadak (Mark & Mykleburst,2012).
  2. Usia
     Usia muda merupakan kelompok penyumbang angka cedera ACl tertinggi. Faktornya adalah karena mereka melakukan banyak aktivitas fisik dalam kegiatan sehari - hari maupun dalam latihan olahraga kesehatan atau prestasinya. American Academy of Orthopaedic memberikan data bahwa dari 2000 operasi yang dilakukan untuk cedera ACL kebayakan pasien dalam range usia 15 - 25 tahun (Mark & Mykleburst,2012).
  3. Jenis Kelamin
     Studi menjelaskan bahwa wanita yang aktiv dalam "Cutting Sport" -sepak bola, bola basket, dll- memiliki 6 kali resiko lebih tinggi untuk menderita cedera ACl dibanding pria dengan jenis olahraga yang sama. Sebagian besar dari wanita yang menderita ACL yakni pada usia 12 - 18 tahun (Mark & Mykleburst,2012). Penyebabnya adalah, secara anatomi kondisi "Valgus" wanita lebih lunak dari pada pria. Itu yang menyebabkan wanita memiliki resiko terkena cedera ACl lebih tinggi dibanding dengan pria. Selain itu, faktor tingginya hormon esterogen pada siklus menstruasi membuat kekompakkan sendi menurun, sendi menjadi lebih tidak setabil.

Gejala
  Cedera yang berkenaan dengan Ligamentum Crusiatum Anterior dapat dianalisa melalui berbagai gejala yang dituimbulkan kepada tubuh, antara lain :
  1. Perasaan nyeri tepat setelah cedera
  2. Bengkak pada lutut setelah 4 - 12 jam
  3. Suara letusan ketika ligamen pecah
  4. Kesulitan dengan pergerakan lutut
  5. Berjalan dengan pincang dan nyeri
  6. Perasaan tidak setabil, dengan lutut tunduk semasa olahraga atau aktivitas fisik lainnya.

Treatment
  1. Menggunakan Immobilizer untuk pasien tanpa cedera meniscus, ligamen kolateral, atau ligamen crusiatum posterior
  2. Berkonsultasi pada ahli ortopedi untuk cedera yang berdampak pada bagian lutut lainnya.

Pencegahan
Beberapa latihan dapat digunakan untuk mencegah terjadinya cedera ACL, antara lain :
  1. Squat
  2. Walking Lunges
  3. Core Strength
  4. Heel Touches
  5. Broad jump

0 komentar:

Posting Komentar